Humor Sufi

Salah Tafsir

Dua Santri

H

umaidi dan Saeful, dua santri senior di Pesantren As-Salam, beserta Ustadz Makmun, suatu ketika jalan-jalan ke Arab dan Mesir. Dengan bekal bahasa Arab mumpuni yang mereka pelajari selama bertahun-tahun mendalami kitab-kitab kuning, Humaidi dan Saeful dengan percaya diri menuju Arab. Mereka sudah tak sabar untuk mempraktekkan langsung bahasa Arabnya kepada orang Arab asli disana.

Dengan menggunakan pesawat terbang, mereka pun sampai juga di Arab.Humaidi dan sahabatnya takjub melihat banyaknya orang berpakaian ala syekh di sana.  Orang-orang yang berlalu lalang semuanya berbahasa Arab dan Inggris membuat dua santri shaleh ini semakin bersemangat.

“Wah, wah. Sepertinya semua orang di sini ulama semua ya,Ful,”ujar Humaidi tercengang.

“Iya, iya. Orangnya tinggi-tinggi semua,brewokan dan putih-putih, mirip habib-habib di Jawa,”ujar Iful tak kalah takjub.

Namun, baru saja sejam di bandara menunggu jemputan, dua santri ini sudah dibuat bingung.

“Hum, kau lihat itu!”ujar  Iful sambil menunjuk sebuah konter makanan.

“ada apa?”

“Dikonter itu dijual makanan  “A’isyu Karim”.Itu kan artinya hidup mulia. Masak makanan dinamai begitu?” ujar Iful.

Humaidi menoleh dan melihat tulisan itu.

“Iya, ya. Aneh ya? Dari bentuknya sih itu kan es Tung-tung, tapi kok mereknya begitu,” ujar Humaidi juga bingung.

“Wah, wah, bahaya ini,bahaya!Ternyata benar omongan orang selama ini bahwa dunia termasuk jazirahAarab sudah dikuasai kapitalisme sampai-sampai es Tung-tung  yang bias membuat demam diberi merek begitu,”ujar Iful.

“Artinya kapitalisme itu mengajarkan bahwa dengan berbelanja orang akan hidup mulai Hum. Sunggguh penyesatan yang nyata,kapitalisme sudah merusak umat dengan segala cara,” ujar Humaidi prihatin.

Ustadz Makmun yang sendari tadi mendengarkan sambil membaca koran hanya senyum-senyum saja. Tulisan yang dibaca dua santrinya itu tak lain adalah ice cream (es krim) yang ditulis  dengan aksara  Arab.

Saat dalam perjalanan menuju penginapan, kembali Humaidi dan Saeful gusar.  Mereka dengan jelas membaca plang rambu lalu lintas bertuliskan “mamnu’u dukhul”. Awalnya mereka merasa salah lihat ,tapi ternyata mereka menemukan lagi plang itu. Kata ‘dukhul’ dalam kitab kuning yang biasa mereka baca artinya adalah “senggama”.

“Gila orang Arab itu,Hum. Masak ada larangan bersenggama dijalanan. Mana ada orang bersenggama dijalanan, adanya juga kan di kamar atau kasur”,ujar Iful lagi.

“Iya,gila sekali,Ful.Tapi jangan-jangan di Arab lagi banyak kejadian seperti  itu,makanya ada larangan seperti itu. Duh ternyata budaya Arab sekarang sudah kebarat-baratan,sudah rusak,”ujar Humaidi sedih.

Ustadz Makmun yang agak mengantuk bergoyang-goyang perutnya menahan geli, melihat tingkah dua santrinya. “Mamnu’u dukhul” ternyata adalah tanda yang menunjukkan jalanan satu arah, hingga kendaraan yang berlainan arah tak boleh masuk.

Kegilaan orang Arab semakinmenjadi-jadi di mata dua santri lugu ini ketika keesokan harinya mereka jalan-jalan menggunakan bis keliling kota. Mereka membaca tulisan di dinding bis, “Mamnu’u injal rokib fi toriq” dengan ilmu bahasa Arab yang mereka kuasai mereka mengartikan dengan tak percaya kalimat itu.

“Dilarang ‘Ejakulasi Bagi Setiap Penumpang Di Jalan!”ujar mereka berdua saling berhadapan.

“Makin gila, Ful. Makin gila ini,”ujar Humaidi.

“Iya naudzubillah. Naudzubillah….”ujar Iful.

“Sudah rusak, Ful. Orang Arab sudah rusak. Sepertinya jika dulu tanah Arab adalah sumber para pendakwah, sekarang sepertinya tanah Arab menjadi daerah yang sangat memerlukan dakwah islam, Ful,” ujar Humaidi lagi.

Kembali Ustadz Makmun yang mendengarkan percakapan itu badannya  berguncang, menahan ketawa. Kata “Injal” yang dipelajari di pesantren lewat Kitab Kuning memang berarti “ejakulasi”. Namun ternyata dalam kalimat tersebut berbeda. Tulisan itu maknanya tak lain adalah larangan bagi penumpang agar tidak mengeluarkan anggota badannya selama perjalanan.

“Itulah kalau belajar Kitab Kuning hanya memperhatikan bagian-bagian yang hot-hot saja,”ujar Ustadz Makmun dalam hati sambil terus berusaha menahan geli.

Sumber : Efri Aditia dalam Hidayah,edisi 104-April ’10,

~ oleh sugafahru pada Februari 8, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: